Rasa malu adalah tendensi atau kecenderungan untuk merasa canggung, khawatir, atau tegang ketika berada di lingkungan sosial, terutama saat dikelilingi oleh orang yang tidak dikenal.
Beberapa gejala yang menunjukkan dan diakibatkan oleh munculnya rasa malu, antara lain; berkeringat, jantung berdegup kencang, perasaan negatif tentang diri mereka, kekhawatiran tentang orang lain memandang mereka, sampai kepada keinginan menjauhi interaksi sosial.
Selain itu, orang pemalu juga punya kecenderungan untuk over- thinking. Mereka sering kali mempertanyakan kembali apa yang sudah dan akan dia katakan di depan umum atau dalam interaksi sosial.
Rasa malu sebenarnya termasuk hal yang normal dan umum ditemui dalam interaksi sosial di masyarakat. Rasa malu tidak menjadi masalah jika dalam batas yang wajar. Tetapi jika sudah mengganggu interaksi sosial dan mengganggu kehidupan seseorang secara signifikan atau menghindarkan seseorang pada sesuatu yang seharusnya mereka lakukan, contohnya menghindari komunikasi dan kesulitan berinteraksi dengan rekan kerja.
Ada beberapa istilah yang sering salah penggunaan untuk merujuk rasa malu, antara lain; introvert, pemalu, dan social anxiety disorder (gangguan kecemasan sosial).
Dari ketiga istilah tersebut sebenarnya merupakan perilaku yang berbeda.
Introvert
Introvert adalah dimensi kepribadian yang membahas bagaimana cara seseorang melakukan charging energy mereka. Jadi ketika energi orang tersebut habis, mereka mendapatkannya kembali ketika sendirian.
Pemalu
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, secara umum pemalu adalah kecenderungan ketakutan dilihat negatif dalam interaksi sosial.
Social anxiety disorder
Berbeda dengan dua sebelumnya, social anxiety disorder sudah termasuk gangguan mental. Untuk mengetahui hal ini harus melalui diagnosis oleh psikolog atau psikiater. Jadi, sebelum ada diagnosis profesional kita tidak dapat menyematkan istilah ini.
Berikut beberapa tips dan trik untuk menghilangkan rasa malu, antara lain:
Fake it untill you make it
Ini adalah mantra untuk menanamkan kepercayaan diri ke dalam diri kita sendiri. Kita menanamkan karakter yang kita harapkan ada dalam diri kita yang dapat mendukung kemampuan kita untuk berinteraksi. Misalnya kita tanamkan keyakinan bahwa kita adalah orang yang supel, lucu, disenangi banyak orang.
Menurut sebuah penelitian, seseorang yang memfokuskan pikirannya terhadap goal yang telah disusun, akan cenderung dipersepsikan lebih asertif, lebih proaktif, dan dipandang punya kepercayaan diri yang tinggi.
Tidak berekspektasi terlalu tinggi
Di dunia ini tidak ada orang yang sempurna oleh karena itu kita jangan berekspektasi terlalu tinggi terhadap diri sendiri. Jika kita berekspektasi terlalu tinggi, maka kita akan cenderung mengkritik diri kita sendiri atas apa yang kita lakukan atau atas apa yang kita tidak dapat capai. Seseorang yang berekspektasi terlalu tinggi juga cenderung tidak realistis dan sangat kejam dalam menilai diri sendiri.
Sadari apa yang terjadi dalam pikiran saat overthinking
Over thinking bisa terjadi sebelum dan sesudah seseorang lakukan dalam interaksi sosial. Yang harus dilakukan adalah fokus dengan apa yang sedang kita lakukan dan fokuslah pada saat itu.
Perbanyak literasi
Literasi di sini tidak dalam arti yang formal dalam membaca, tetapi kita harus memperbanyak literasi agar dapat mengikuti suasana dalam interaksi sosial. Selain itu dengan literasi ini diharapkan kita memiliki banyak kosakata dan ekspresi sehingga kita dapat mengungkapkan perasaan dan pendapat kita dengan berbagai ekspresi.
Membaca juga dapat menambah wawasan kita, sehingga apapun tema yang dibicarakan dalam interaksi sosial, kita dapat mengikutinya.
Keluar dari zona nyaman
mendapatkan OneNote, kunjungi www.onennegaote.com.
Komentar
Posting Komentar