Beberapa hal yang harus kita catat dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yaitu yang pertama, pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Dalam hal ini Ki Hadjar membuat koneksi antara pendidikan dan kebudayaan sebagai dua hal yang tidak terpisahkan. Menurut Ki Hadjar untuk mencapai peradaban yang kita harapkan pendidikan adalah landasannya.
Yang kedua, inti dari filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah perubahan. Perubahan adalah fitrah kehidupan begitu juga pendidikan dan kebudayaan. Dalam menghadapi perubahan tersebut Ki Hadjar mengajarkan kita untuk dapat terus bergerak sesuai kodrat alam dan kodrat zaman.
Relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap transformasi pendidikan yang sedang kita lakukan saat ini ada tiga.
Yang pertama, Kodrat keadaan. Dalam hal ini terbagi dua yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam mengandaikan setiap manusia hidup terikat dengan alamnya dimana kondisi alam pegunungan misalnya akan berbeda dengan kondisi alam pantai, negara beriklim tropis akan berbeda dengan negara beriklim subtropis, dan seterusnya.
Yang kedua, prinsip perubahan. Dalam hal ini ada tiga asas dalam perubahan yang disebut tri-kon yaitu asas kontinuitas, konvergensi, dan konsentris.
Prinsip kontinuitas menurut Ki Hadjar adalah bahwa dalam melakukan perubahan kita harus melakukan dialog kritis tentang sejarah. Dalam bergerak maju ke depan, kita tidak boleh lupa akan akar nilai budaya yang hakiki dari masyarakat.
Asas konvergensi yaitu pendidikan harus melihat dari berbagai perspektif dan sumber, tidak menutup diri atas sumber yang berbeda dengan perbedaan pemahaman dan tidak sesuai dengan keyakinan yang dimiliki. Namun semua itu menuju pada satu titik yaitu memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Jadi pendidikan harus memanusiakan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Sedangkan asas konsentris berarti pendidikan harus menghargai keragaman dan memerdekakan pembelajar. Hal ini penting karena setiap orang memiliki ciri khas, kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ki Hadjar mengibaratkan pendidik itu sebagai petani (pamong) bibit yang berbeda akan tumbuh dengan cara yang berbeda. Tumbuhkanlah bibit padi selayaknya padi, tumbuhkanlah jagung dengan caranya dia tumbuh, dan tumbuhkanlah kedelai dengan caranya sendiri. Semua punya kodratnya masing-masing.
Yang ketiga, budi pekerti. Budi memiliki tiga komponen yaitu cipta, rasa, dan karsa. Cipta adalah pikiran. Rasa adalah perasaan, dan karsa adalah kemauan. Sementara Pekerti adalah tenaga. Dalam filosofi pendidikannya, Ki Hadjar mengajarkan terjadinya keseimbangan dengan menajamkan pikiran, menghaluskan rasa, memperkuat kemauan dan menyehatkan jasmani. Pendidikan harus holistik dari cipta, rasa, dan karsa. Akhirnya keseimbangan ini akan membawa kita pada kebijaksanaan.
Relevansi yang ketiga adalah keharusan untuk memandang kepada anak dengan rasa hormat berorientasi kepada anak. Semua yang kita lakukan dalam pendidikan harus berorientasi penuh kepada sang anak.
“ Dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta sesuatu hak, namun untuk berhamba pada sang anak”.
Ahmad Fauzi

Komentar
Posting Komentar