Era Disrupsi Dalam Dunia Pendidikan
Belakangan ini kita sering sekali mendengar kata Disrupsi atau distruption. Istilah ini sebenarnya sudah ada sejak lama, namun dipopulerkan kembali oleh Clayton M. Chirtensen, seorang guru besar di Harvard Business School dalam bukunya ‘The innovator Dilemma'. Dalam bukunya diungkapkan bahwa perusahaan besar yang telah memiliki banyak sumber daya, aset, dan banyak koneksi ditundukkan oleh perusahaan baru dengan ukuran yang masih kecil.
Pada tahun 2018 Chirtensen dalam world economic forum juga mengungkapkan prediksinya dalam dunia pendidikan bahwa 50% universitas di Amerika Serikat akan mengalami kebangkrutan dalam 15 tahun ke depan. Hal itu disebabkan karena universitas-universitas itu terdisrupsi beragam terobosan online learning dan juga MOOCs (Massive Online Open Courses).
Selain itu, 65% anak-anak yang bersekolah hari ini akan mendapatkan pekerjaan yang saat ini belum ada. 42% atau 75 juta pekerjaan yang ada sekarang akan digantikan oleh robot atau Artificial Intelijen pada tahun 2022.
Peringatan para pakar dan lembaga think tank global ini seharusnya jadi wake up call bagi semua penyelenggara pendidikan bahwa dunia pendidikan jika hanya dikelola secara Business as usual akan tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Peringatan seperti ini hendaknya diperhatikan secara serius oleh para pemangku kepentingan pendidikan kita.
Saat ini gelombang disrupsi sedang terjadi secara besar-besaran di seluruh dunia hal ini ditandai dengan beberapa Disrupsi.
Yang pertama, disrupsi milenial.
Kaum milenial memiliki pola pembelajaran yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi milenial adalah generasi yang highly mobile, apps dependen, dan always connected. Mereka begitu cepat menerima berbagai informasi melalui jejaring media sosial, mereka juga adalah self learner yang selalu mencari informasi yang mereka butuhkan melalui berbagai media yang beragam. Mereka menolak untuk digurui.
Mereka adalah generasi yang sangat melek visual (visualy literate) sehingga mereka senang belajar melalui video YouTube, online games, bahkan menggunakan augmanted reality ketimbang menggunakan teks seperti buku atau mendengar ceramah guru di dalam kelas.
Selain itu mereka juga sangat melek data (data literate) sehingga sangat piawai dalam berselancar di google dalam mencari, memproses, menganalisa data yang ada daripada menghabiskan waktu di perpustakaan.
Semua hal itu dilakukan dengan sangat cepat melalui 3M (multi-media, multi-platform, dan multi-tasking). Mereka juga lebih nyaman belajar dengan cara colaboratif dalam proyek yang riil atau pendekatan yang peer to peer melalui komunitas dan jejaring sosial.
Buat mereka peer lebih kredibel dari pada guru dan lebih suka belajar dengan interaktif gaming daripada harus mengerjakan PR.
Yang kedua, disrupsi teknologi.
Teknologi pendidikan berkembang begitu pesat sehingga mendisrupsi dunia pendidikan itu sendiri. Berbagai inovasi disrupsi dunia pendidikan bermunculan seperti MOOCs, open educational resources, situs tutorial online seperti ruang guru, Kent academy yang kini sedang antre untuk mencapai critical mass. Jika ini terjadi dunia pendidikan akan berubah total menjadi lebih terbuka, kolaboratif, personal, eksperensial, dan sosial.
Dengan beragam inovasi tersebut mungkin saja ruang kelas tidak lagi dibutuhkan. Guru akan berubah peran secara drastis menjadi mentor, fasilitator, motivator, dan role model bagi siswa.
Sekolah tidak lagi bisa memonopoli proses pembelajaran karena tersedia sangat banyak learning channel. Guru tidak hanya yang ada di kelas tetapi bisa dari manapun dan dimanapun bahkan dari artificial intelegen.
Yang ketiga, disrupsi kompetensi teknologi 4.0. Teknologi ini melahirkan real set yang baru sekaligus mendisrupsi kompetensi yang ada sebelumnya. Pekerjaan yang bersifat repetitif dan analisis akan digantikan oleh robot atau Artificial intelegen. Selain itu pekerjaan yang bersifat analitis juga akan terdisrupsi seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, akuntan, wartawan, hingga penerjemah.
Dengan kemajuan machine learning, AI, robot, big data anality, IoT, VR, AR, hingga, 3D printing, maka pekerjaan akan bergeser dari manual occupation dan repititif charge ke cognitive charge atau ke creative charge.
Nantinya kesuksesan akan sangat ditentukan dari kolaborasi antara robot dan manusia.
Sementara dari sisi softskill, pada tahun 2008 Tony wag merumuskan” seven survival skill for 21st Century” yaitu
Critical thinking and problem solving
Colaboration across network
Ability and and adaptibility
Initiative and entrepreneurship
Accessing and analysing information
Effective communication
Curiosity and imagination
Celakanya ke 7 softskill ini sangat minim diajarkan di sekolah-sekolah kita saat ini. Oleh karena itu sekolah-sekolah harus meredefinisi kurikulum agar mengakomodasi ke 7 skill ini.
Ketiga gelombang disrupsi ini akan mengubah wajah pendidikan kita. Jika tidak direspon dengan sungguh-sungguh kita akan membayar mahal untuk masa depan bangsa ini. Kita akan terjebak pada ' middle income trap'.
Semoga dengan menteri pendidikan saat ini kita mampu mengantisipasi tantangan ini.

Komentar
Posting Komentar